Rabu, 26 Oktober 2016

Batik Tulis Ibu


Suatu hari, Saya ingin sholat di kamar – biasanya sholat di mushola – gak ada sajadah. Selembar sarung batik dalam lemari jadi pilihan alternative pengganti sajadah. Setelah sholat, Ibu Mertua, menegur. “Ojo pake itu jadi sajadah. Aku le nggawe angel. Aku nggawe kuwi nggo anak mbarep tetakan (sunat)”.

Dulu, Aku gak tau arti selembar kain batik tulis baginya.
Sama seperti orang Indonesia lain. Aku menyukai batik karena euphoria UNESCO. Sama juga suka songket tanpa tau arti songket bagi para penenun songket. Bagiku, batik dan songket harus dilestarikan sebagai warisan budaya leluhur. Ciye, yang saat itu taunya batik thok. Tanpa tau sejarah adanya cerita di balik batik tulis, cap dan batik printing.
Setiap kali Ibu cerita tentang batik, api dalam matanya menyala. Beliau bersemangat.
Ibu lahir dalam keluarga pengrajin batik. Eyang putri adalah juragan batik dengan 100 pekerja. Rumah sekaligus pabrik dikelilingi aroma malam. Ibu bertugas membagi malam kepada pembatik.
“Malam harus dibagi dengan bagian yang pas agar cukup untuk semua pekerja menghasilkan satu kain batik,” kata Ibu.

Ibu juga pandai membuat malam. Ibu mengumpulkan gajih daging sebagai campuran malam. Hasilnya, malam itu bisa keluar lancar meski lewat lubang canting yang kecil. Hasil batikan pun semakin indah. Apalagi untuk batik yang kecil dan halus.
Jadi gini. Batik tulis ini dikerjakan dengan canting. Alat yang terbuat dari tembaga untuk menampung malam (lilin yang sudah dipanaskan). Ujung canting, berupa pipa kecil, tempat keluarnya lilin cair. Lilin itu untuk membentuk gambar di permukaan bahan yang akan dibatik. Lilin cair ini sifatnya akan mengeras sesaat setelah digambar di atas kain.

Pekerjaan ini gak gampang. Karena tangan pembatik harus luwes. Cepat menggerakkan canting. Seperti orang yang melukis, pembatik harus menyatukan tangan, hati, dan pikiran, bagaimana meliukkan malam panas di atas kain. Melihatnya meresap di atas kain, mengalir dengan garis malam. Gerakan canting juga harus punya ritme. Tidak terlalu cepat, tidak terlalu pelan, dan temperatur malam yang tepat. Untuk  mendapatkan ritme ini kudu melalui proses yang lama. Gak heran jika ada cerita dibalik sehelai kain batik. Seperti sarung batik buatan Ibu. Beliau membuatnya untuk putra sulung sebagai hadiah sunatnya. Tentu saat menggoreskan canting, malam itu mengalir beserta harapan dan doa beliau untuk Sang Anak.

Ibu juga sempat merampungkan batik tulis karyanya saat sedang hamil anak keenam. Batik itu bercerita tentang mahluk hidup di dalam air. Ada ikan hiu, kura-kura, ikan mas, rumput laut dan lain-lain. Batik itu penuh dengan goresan canting, tebal juga tipis. Saya jadi membayangkan saat itu, mungkin Ibu menggoreskan canting diiring zikir dan doa. Bahwa hidup ini adalah misteri. Sama halnya dengan kehidupan dalam air. Siapa yang tau, kecuali Yang Maha Kuasa. Hidup ini juga akan dilalui dengan keseimbangan, antara yang kejahatan dan kebaikan. Seperti gambar ikan hiu, yang karnivora pemakan ikan lain, tapi ada juga kura-kura, hewan baik yang pandai bertahan. Namun mereka semua hidup bersama dalam ekosistemnya. Misteri juga, kenapa ikan hiu bersama dengan ikan mas? Ah, hanya Ibu yang tau itu.

Batik Karya Ibu

Prosesnya lanjut lagi, dengan pengerokan malam, lalu dibatik lagi dengan malam, diulang kembali. Sampai mendapatkan gambar yang diinginkan. Lanjut ke proses pewarnaan. Ibu mewarnai batiknya dengan warna alam. Waktu itu beliau memliih beberapa kayu dan merebusnya. Ah, panjang nih ceritanya. Nulis lengkapnya di halaman berikut aja.
Begitu panjang dan lama prosesnya. Terbayang besar harapan mendapat hasil batikan, sesuai dengan keinginan.


Terbayang juga bagaimana tersinggungnya Ibu, saat melihat karyanya yang dibuat susah payah, “diijak-injak”. Makanya, sarung ya dipake sebagai sarung, jangan digunakan sembarangan (*ngomong sendiri).

9 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Bagus tulisanya mak

    Batik memang penuh misteri dan selalu ada kisah
    Mbah Putriku alm pengkoleksi jarik batik, nyucinya pake lerak atau pati kanji kayaknya lupa aku..hehe

    Aku suka juga

    Ditunggu lanjutan tulisanya mak...

    Aku padamu wis..:D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih Mak. Nulisnya masih tersendat dengan kesibukan. Duilehhh... *Isin dewe. Padahal....

      Hapus
  3. Senang baca ini. Seperti sedang mendengarkan dongeng.
    Batik tulis, selalu ada cerita dibaliknya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jaman dulu, batik sama seperti buncahan rasa spritual gitu Mba. Pas Islam masuk, sambil mbatik sambil zikiran. Ada juga cerita, mengapa gambar burung garuda di batik jadi simbol saja. Padahal dulunya burung garuda. Asik ah.

      Hapus
  4. Mbaaa..karyanya ibu bagus banget itu.. Perlu berapa lama ya mencari inspirasi seperti itu? Apa sama lamanya dg waktu Mba Zaki untuk menuliskan cerita indah ini? Xixixi..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huahahahahahaha... Lamaaaa banget Mba...

      Hapus
  5. Wah..aq nunggu kelanjutan ceritanya ni mbak. Btw kapan2 mau dong belajar mbatik..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada belajar batik di Kampung Batik Laweyan Mba. Aku juga kepengen.

      Hapus